Touring Denpasar – Medan 2012 – (4)

Hari ke-7 : 10 Juli 2012
Jambi-Pekan Baru berjarak 502 km dengan prediksi waktu tempuh 10 jam. Sudah dijemput om Abdul jam 5 pagi untuk diantar ke jalan lintas timur Jambi – Pekan Baru karena kuatir si KT gak bisa nemu jalan. Emang gps gak ngaruh, ya? Setelah kelar kota dan menyeberang jembatan sungai Batanghari dan ucapan terima kasih dah merepotkan wong Jambi, akhirnya si KT melaju di pagi yang dingin. Sempat diwanti-wanti bahwa setengah jam ke depan harus ekstra hati-hati karena banyal ternak di jalan dsn jangan sampai menabrak ternak penduduk setempat karena di sana nyawa ternak lebih berharga dari nyawa manusia. Waaduh… Terpaksa si KT diajak berlari 100kmj aja plus ekstra hati-hati. Karena jalan yang beraspal mulus plus jalan yang berkelok-kelok indah dengan pemandangan yang aduhai membuat lupa sehingga si KT diajak berlari full speed terus, gak ada matinya. Hanya saja masih mbrebet kalau gas ditarik tanpa diurut.
Saking asyiknya lupa kalau naga di perut dah mulai protes, mana ada resto di tengah hutan begini? Sekitar jam 08.00 baru ketemu resto tempat bus istirahat, somewhere di tengah hutan.

Selamat datang di Riau

 
Sekitar jam 10.30 si KT melewati perbatasan Jambi dan masuk propinsi Riau. Hanya kurang dari 2 km sejak perbatasan, jalan mulai bermasalah. Mulai dari berlubang kecil sampAi sebesar gajah tanpa ada tanda-tanda akan diperbaiki. Banyak truk dan bus yang dengan pasrah hanya berjalan seperti keong. Kalau dari Bakauheni sampai perbatasan Jambi-Riau jalan rusak yang ditemui paling panjang hampir seratus meter, kalau dari perbatasan ke arah Pekan Baru sangat sedikit jalan bagus yang panjangnya 100m. Sisanya rusak semua !! Propinsi terkaya mau jadi tuan rumah PON mendatang seperti ini? Bakalan banyak yang pakai seragam baru “Tahanan” KPK. Setelah riding hampir dua jam, si KT butuh istirahat di Pangkalan Kerinci sekalian di cek. Hasil dari jalan rusak : fairing belakang kanan pecah, di atas lampu belakang pecah dan hilang. Lainnya aman. Setelah istirahat hampir sejam, si KT kemudian diajak berlari menuju Pekan Baru. Jalan mulai membaik tapi tetap banyak lubang jebakan kalau tidak waspada.
 
Pintu gerbang Pekanbaru : Tidak terawat
 
Kurang lebih jam 15.30 si KT masuk Pekan Baru, ngisi Pertamax buat perjalanan besok. Iseng-iseng nanya ke petugas pom bensin kenapa jalan di Riau banyak rusak dibandingkan Jambi. Jawabannya cukup membuat miris : “kalau disini gak ada pembangunan, pak. Yang ada hanya korupsi n korupsi saja”. Jawaban yang polos dan kayaknya mewakili rakyat kecil di Riau. Daripada berlanjut bikin sakit hati mending langsung ke hotel Amaris yang sudah di booking dari PT. Oto Multiartha Pekan Baru..
 
Habis bersih-bersih kemudian keluar jalan sebentar liat2 kota Pekan Baru sambil nyari makan. Balik ke hotel jam 18.00 tiduran bentar yang ternyata kebablasan sampai jam 04.00 pagi. Hahahaeee….

Hari ke-8 : 11 Juli 2012

Rute terpanjang selama touring : 700km lebih jarak Pekan Baru – Medan. Rencana awal rute ini akan ditempuh 2 hari tapi berubah harus dalam satu hari. Tanpa sarapan sama sekali karena ngejar waktu, jam 05.30 si KT dah siap buat jalan. Sayangnya untuk pertama kali, si KT tidak mau hidup. Sudah dicoba beberapa kali tapi tetap tidak mau hidup. Dah terbayang harus nyari ekspedisi buat ngirim si KT dan naik bis pulang ke Medan. Untungnya si KT mau hidup yang akhirnya mundur setengah jam dari planning. Jam 06.00 keluar hotel, jalan perlahan karena masih gelap dan ternyata kabut menutup kota, jarak pandang jadi terbatas. Sempat dari jauh melihat satpam BRI di depan bank, maksud hati ingin bertanya arah ke Rumbai. Pada saat si KT parkir di pinggir jalan, terlihat satpam buru-buru masuk ke dalam bank. Waktu dikejar ke dalam, terlihat si satpam segera menurunkan rolling door da n terdengar suara “jeglek !!!” yang artinya rolling door dikunci dari dalam. Haddeehhh…. Keluarlah kata sakti khas arek Suroboyo : JAN**K !!! Emang gue rampok? Mang sih saat itu masih remang-remang dan tidak ada orang lain alias sepi. Setelah meraba-raba plus nanya jalan ke Rumbai-Duri di warung kecil, akhirnya ketemu juga tuh jalan lintas timur menuju Medan.

Daerah Pekan Baru sampai Duri dikelilingi rawa sehingga kabut betul-betul menutupi pandangan, panduan jalan hanya berpatokan pada aspal ke depan yang berjarak 5-10an meter. Kiri kanan : tertutup kabut !!! Aktifitas pasar tumpah di Rumbai dan Minas lancar dan tidak seperti di Jawa yang membikin macet, hanya kondisi beberapa titik yang membuat kendaraan besar seperti truk dan trailer harus merayap perlahan. Mumpung lagi macet jadi sekalian aja istirahat sarapan. Menu sarapan : NASI PADANG yang kayaknya ini menu wajib yang mudah ditemukan di belantara Sumatera. Setelah dipikir-pikir, setiap hari pasti makan nasi padang. Apa karena istri asli Padang kali yeee….
Habis sarapan langsung si KT dipacu menuju perbatan Riau – Sumut, kondisi jalan yang lumayan sehingga si KT bisa mencapai top speed 140kmj di speedometer. Melewati Duri terasa berbeda dengan kota-kota lain, karena kota ini adalah kota yang dibangun dari minyak. Di sini salah satu oil company terbesar Amerika yaitu Chevron beroperasi mengeruk minyak dari perut bumi. Gak jelas keuntungan buat Riau jika dilihat dari kondisi jalanan di propinsi ini. Harusnya Riau adalah propinsi kaya tapi…. Fasilitas yang besar dan jalan yang wah adalah pembeda Duri dengan kota lain.
Sampai di Bagan Batu, kota terakhir Riau sebelum masuk Sumut, istirahat bentar dan doping dulu (Heineken plus Red Bulls) buat nambah stamina, hehehehehe…Habis istirahat langsung si KT dipacu lagi menuju Medan. Tiba-tiba di tengah jalan dihentikan oleh polisi, ada razia nih. Setelah tanya jawab sebentar dan di cek surat2 si KT, langsung dilepas. Sempat nglirik badge om polisi ada tulisan “polda sumut”. Haaa…? Surprise, ternyata sudah masuk Sumut, kok nggak terasa ya? Perasaan ini mata dah pelototin jalan buat nyari patung selamat datang tapi gak ditemukan. Makanya gak tau kalau sudah di Sumut. Sepanjang jalan lepas perbatasan adalah kebun kapa sawit, jalan berkelok-kelok “rancak bana”.Pas lagi menikmati pemandangan tiba-tiba kaget melihat sebuah truk lagi sembunyi dibalik rerumputan dengan cueknya dengan posisi roda di samping alias terguling. Hadeeehhh….. Padahal jalan lurus, apa karena tuak??
o iya, sepanjang jalan dari Palembang sampai di sini banyak kali menemukan Dishub melakukan razia terhadap truk dan mobil angkutan barang lainnya. Dan yang lucunya hanya berjarak 500 meter polantas juga melakukan razia terhadap kendaraan yang sama. Kok bisa ya ? Rebutan rejeki kalee ya?
Masuk perbatasan Sumut agak sulit menemukan pertamax jadi terpaksa si KT minum tuak bin premium lagi, hadeeehh…… Sampai di Rantau Prapat baru dapat pertamax lagi buat si KT. Istirahat makan siang di Kisaran sekitar jam 14.00 dan untungnya kali ini makannya nasi campur bukan nasi padang lagi. Makan seperti biasa seakan-akan lama gak ketemu makanan. Pas mau jalan lagi ternyata relay angel eyes lepas dari dudukannya, jadi harus dimodifikasi. Dah full gear terpaksa dilepas dulu karena panas. Selesai dibenarin trus langsung si KT digeber, dan belum ada satu kilometer tiba-tiba hujan turun dengan deras. Terpaksa berhenti dipinggir jalan buat pakai rain coat. Dari panas ke hujan sangat cepat sekali berubahnya. Riding gak sampai 10 menit kembali cuaca berubah dan mentari kembali menjadi sombong, panas!! Terbayang panas terik sambil pakai rain coat kan?

 
 
 
Kisaran – Medan adalah jalur yang penuh godaan. Sudah makai balaclava menutup hidung plus helm full face dengan visor tertutup rapat tapi bau durian tetap tercium menyengat di hidung. Mantap bukan? Sayangnya karena keterbatasan waktu sehingga si KT sukses melewati cobaan dan godaan si duren. Selain durian, saat ini juga sedang musim rambutan. Selain musim durian dan rambutan, dsekarang ini juga lagi musim hujan,🙂. Pedagang rambutan dan durian berbaris rapi sepanjang jalan entah itu di kebun sawit maupun di kota gak ada habisnya.Karena si KT dipacu tanpa henti sehingga jam 16.30 si KT sudah melewati Tebing Tinggi. Dan jam 17.00an, memasuki kota Medan. Di jam tersebut arus lalu lintas sangat…sangat…sangat padat. Sehingga si KT harus merayap perlahan dan akibatnya temperatur mesin hampir mencapai red line. Bayangkan, dalam kondisi normal jarak batas kota ke Istana Maimun biasanya 15 menit, hari ini pas satu jam. Edaaannn… Tapi mau bilang apa? Ini Medan, bung.Titik nol Medan ada di istana Maimun, sehingga sbm pulang ke rumah harus singgah ke sana dulu untuk jadi bukti perjalanan Denpasar – Medan kali ini.
Istana Maimun, Medan
Total jarak tempuh : 3305 km
Speedometer sebelum start di Denpasar

Speedometer di Istana Maimun Medan

 
 
Next touring : Medan – pulau Sabang (km 0).
Categories: Touring | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: