How They Make It : Helm VR 46

Buat Rossifumi yang mengoleksi helm VR46 tentu tahu bagaimana kualitas helm AGV  yang dibuat special buat the Doctor. Dengan disain dan corak yang menarik dan lucu membuat banyak penggemar rela menebus helm VR46 walau harganya yang kadang ediiann buat isi kantong.
AGV SpA. (Amisano Gino Valenza) membuat helm agak berbeda dengan helm produksi massal dimana  biasanya helm dibuat dengan desain cangkang atau tempurung helm yang sama, lalu untuk menyesuaikan dengan kepala pemakaianya, ukuran busa di dalamnya disesuaikan ketebalannya.

Namun AGV memutuskan untuk membuat helm sesuai dengan ergonomi tiap kepala pemakainya demi keamanan dan keselamatan pengguna dan the Doctor menjadi orang pertama yang memanfaatkan teknologi CD/DC ini dan diikuti pembalap MotoGP lainnya yang memakai helm AGV.

Prosesnya sedikit rumit dimana ndase the Dooctor diukur dan di-scanning 3D untuk mendapatkan bentuk kepala yang nyata kemudian disimpan dalam database yang menggambarkan karakteristik ukuran kepala dan indeks antropometri  dalam bentuk digital. Dari data digital tersebut dibuatlah desain helm dan busa didalamnya yang sesuai dengan bentuk kepala.

Baru kemudian helm dibuat dan setelah fix, baru dilakukan berbagai pengetesan  dari fitting dengan patung kepala VR, hingga dengan kepala Rossi langsung. Tes di terowongan angin juga dilakukan untuk menciptakan aerodinamika terbaik, efektifitas ventilasi dan mengetahui tingkat kebisingan yang terjadi.

Video pembuatan helm AGV Pista Project 46 : 

Ada sekitar 7 macam tes untuk mengukur kekuatan helm yang harus dilalui sebelum helm diserahkan ke the Doctor dan dilego ke pasaran, yaitu :

  1. Impact test : menguji apakah helm mampu menahan benturan saat pembalap mengalami kecelakaan yang membahayakan kepala. Tes yang dilakukan adalah mensimulasikan seberapa parah dampak yang terjadi dengan cara menjatuhkan helm dari jarak 2,5 meter dan kecepatan 20,8 km/jam ke atas permukaan baja.
  2. Roll Off test : menguji kekuatan tali pengaman yang memastikan helm tidak terlepas saat sang pembalap terjatuh.Cara pengujiannya adalah model kepala dipasang pada penyangga berdiri sehingga helm akan menghadap ke bawah dengan sudut kemiringan 135 derajat. Lalu helm ditempatkan pada posisi layaknya sedang dipakai oleh pebalap. Kemudian sebuah tali kawat dihubungkan ke tepi belakang helm dengan beban yang ditambahkan di bawahnya untuk selanjutnya ditarik ke bawah. Jika helm terlepas saat tes ini, maka helm dinyatakan tidak lulus tes.
  3. Dynamic Retention test : menguji kekuatan tali pengaman rahang untuk menahan kepala pebalap saat terjatuh dan tertarik.Helm ditempatkan pada posisi kepala yang normal. Kemudian tali dagu di sambungkan pada perangkat khusus untuk digantungkan beban dengan berat sekitar 23 kilogram selama sekitar 1 menit. Secara bertahap, beban akan ditambah hingga 38 kilogram. Helm gagal melewati tes ini jika tidak dapat menahan beban mekanik atau jika peregangan pada tali pengaman rahang melebihi 30 milimeter.
  4. Chin Bar test :Tujuan pengujian ini adalah untuk mengetahui  pelindung dagu pada helm pembalap mampu menahan benturan keras yang terjadi saat kecelakaan.Saat dites, helm ditempelkan ke plat kaku dengan pelindung dagu menghadap atas. Lalu sebuah beban seberat 5 kilogram dijatuhkan ke bagian tengah pelindung dagu. Pergerakan ke dalam pelindung dagu setelah dijatuhkan beban tidak boleh melebihi jarak yang ditentukan.
  5. Shell Penetration test : Tes yang satu ini hampir sama dengan tes impact yang pertama. Namun di tes yang satu ini helm akan benar-benar diuji kemampuannya menahan beban yang langsung tertuju pada helm. Misalnya saat pembalap jatuh dan helm tertusuk batang besi atau pagar di sisi track balapan.Helm akan ditempelkan ke plat besi yang kokoh. Kemudian sebuah besi tajam seberat 3 kilogram akan menusuk bagian atas helm.
  6. Forceshield Penetration test : menguji seberapa kuat bagian pelindung wajah mampu menahan peluru yang ditembakkan oleh senapan angin. Hal ini bertujuan untuk menguji apakah pelindung wajah helm mampu menahan serpihan batu dan kerikil saat pembalap terjatuh tepat di bagian wajahnya.Pengujian dilakukan dengan menembakan sebuah peluru dengan kecepatan sekitar 500 km/jam ke helm yang ditempatkan di sebuah kotak berperantara tiga lapis kaca di depannya. Peluru tidak boleh menembus bagian depan atau pelindung wajah helm. Jika ada benjolan ke bagian dalam pelindung wajah, maka kedalamannya harus kurang dari 2.5 milimeter.
  7. Flame Resistance test : untuk mengetahui bagaimana keadaan helm saat berada dalam kondisi balapan. Selama proses berlangsung, suhu lapisan dalam helm tidak boleh lebih dari 70 derajat celcius.Caranya adalah didinginkan pada suhu -10 derajat celcius dan langsung dipanaskan pada suhu 50 derajat celcius. Selanjutnya dilakukan uji ketahanan menggunakan api propana bersuhu 790 derajat celcius. Api dipaparkan pada bagian luar helm, trim, tali dagu, dan pelindung wajah dalam waktu tertentu. Jika helm terbakar, helm tersebut harus mampu dipadamkan dalam waktu yang sudah ditentukan.

     

     

     

Jadi tidak mudah dan harus menjalani proses yang panjang agar memenuhi standar MotoGP dan itu merupakan salah satu cara AGV menunjukkan bahwa produk mereka memiliki kualitas tinggi.

Makanya gak usah heran kalau harga helm AGV yang dijual umum pun sangat mahal di pasaran dan menuras isi dompet tapi  keamanannya sungguh terjamin.

 

 

Categories: Others | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: